Senin, 16 Maret 2015

Sesuatu Barang Bergarha Pasti ada Harganya, Namun tak Selalu

Bebicara tentang harga pasti yang terdapat dalam pikiran kita adalah "materi/uang". Benar. Karena sesuatu yang berharga pasti mahal dan membutuhkan banyak uang untuk memilikinya. Dan darimana kita dapatkan uang untuk membeli barang berharga tersebut?. Jabannya adalah "Usaha"
Dibalik kata berharga pasti ada usaha keras. Usaha keras untuk mendapatkan kata "berharga" tersebut. Sesuatu yang berharga pasti ada "Rupa"nya. Sesuatu yang berharga itu memiliki rupa yang jarang, dan ketika orang melihatnya pasti akan berkata "wow".
Namun "berharga" bukan berarti mudah didapatkan hanya dengan uang saja hasil usaha keras saja. Namun juga tekun dalam mencari kata "berharga" tersebut. Setiap orang dimuka bumi ini pasti memiliki barang yang berharga. Namun "berharga" tak hanya suatu yang berwujud dengan barang saja. Bisa juga makhluk hidup.

Ibu dan Ayahmu adalah makhluk hidup, bisakah saya membelinya? Tentu saja tidak. Bukankah kau bilang berharga itu membutuhkan uang untuk mendapatkannya? Lantas mengapa aku tak dapat memilikinya? Benar, Namun dia adalah orang tuaku dia adalah sesuatu yang paling berharga dimuka bumi ini. Apakah kau berusaha untuk mendapatkan mereka? Tidak. Bukankah katamu sesuatu yang "berharga" harus didapatkan dengan berusaha? Ya benar, namun tak semua sesuatu yang berharga dimuka bumi harus didapatkan dengan berkerja keras, Ada kalanya Tuhan menitipkannya untuk kita.
Ya, sesuatu yang berharga itu tak selamanya dapat diapatkan dengan kerja keras saja. Tetapi kehendak Tuhanlah yang mengirimkan sesuatu yang "berharga" tersebut. Meskipun kita berkerja keras dan memperoleh sesuatu yang "berharga" tersebut. Percayalah suatu saat nanti kau akan meninggalkannya.
Bukan "ada Harga ada Rupa" tetapi "ada Rupa ada harga". Sesuatu yang berupa pasti "berharga" karena semua itu titipan tuhan. Namun sesuatu yang memiliki harga namun tak berupa bukanlah sesuatu yang "berharga". Jadi bersyukurlah tentang apa yang diberikan oleh Tuhanmu

Tong Kosong Nyaring Bunyinya


Bernakah berfikir kenapa setiap orang yang pandai itu selalu tak banyak cakap? Namun sebaliknya orang yang bodoh itu selalu saja ada topik yang dibicarakan. Orang pandai seperti diam seperti air, namun jika air itu mengalir, lama-kelamaan akan menghanyutkan. Namun orang bodoh itu seperti air yang mengalir deras, air yang selalu mengikuti kemana arus akan membawanya. Dan semua orang tau jika air yang mengalir deras pasti berbahaya dan selalu dijahui.
Tong kosong nyaring bunyinya, setiap benda yang hampa atau kosong pasti jika ditempa akan nyaring bunyinya hingga menyakitkan telinga. Seperti sifat "bodoh" dalam diri kita, sifat yang entah darimana datangnya, sifat yang selalu merugikan orang lain dan juga kita. "Jika ditempa akan nyaring bunyinya" ya itulah cerminan dari sifat "bodoh" ini. Selalu berbicara tentang opini yang jelek, dan membicarakannya sepanjang waktu tanpa melakukan riset terlebih dahulu, benar? atau tidak?
Bunyi dari tong yang nyaring pasti akan menyakitkan telinga siapa saja yang mendengarkannya. Selalu menyakiti, tak pandang bulu siapa yang ia sakiti. Ini adalah beberapa sikap dari sifat "bodoh" kita. Kita selalu menyakiti hati, maupun perasaan orang lain tanpa memperhatikan bagaimana keadaan mereka.
Omongan mereka masuk akal saat diucapkan namun saat dipikirkan kembali tak ada satu kata pun yang dapat kita cerna kedalam otak kita. Tong kosong adalah omong kosong, tong/gentong kebanyakan ukurannya sangat besar seperti omongan mereka yang tak berisi hanya omong kosong saja. Mereka hanya dapat bersuara (berbicara) tanpa melakukan.
Namun hal yang menarik adalah kita masih membutuhkan mereka (tong kosong). Untuk apa? Untuk menghibur kita. Terkadang kita gemas saat dia mulai berbicara tentang topik yang lagi tren namun karena mereka tak dapat mencernanya menjadikan omongannya itu menjadi omong kosong saja. Disitu letak hiburannya, "omong kosong". Kita selalu terhibur dengan itu. Tanpa disadari kita masih membutuhkan mereka.
Air yang deras selalu mengikuti arusnya. Air yang deras selalu membahayakan. Tetapi dari arus yang deras itu menuju kearus yang lebih tenang (lautan). Arus deras itu ibarat pelajaran yang harus kita terima dan harus kita saring, namun jika kita tidak bisa menyaringnya kita akan terjebak kedalam arus yang deras.

Rabu, 11 Maret 2015

Hidup Tak Semanis Teh - TUGAS CERPEN

Samar-samar kulihat tetesan air. Semakin lama semakin merambat tetesannya sampai halaman rumahku. Semakin merambat semakin cepat tetesannya dan akhirnya datanglah hujan. Aku ingat, aku ingat suara gemuruh ini, hawa yang menyejukkan hati, ditambah secangkir teh hangat yang kau buatkan dengan rasa manis yang pas.
            Tak kusangka kita terus-terusan melakukan kegiatan menyejukkan sekaligus menghangatkan hati ini. Kau selalu ingat akan secangkir teh hangat disaat suara gemuruh menghampiri. Selalu ada disaat tubuh ini merasa kedingian. Dan tak kusangka pula engkau tak pernah merubah rasa secangkir teh ini selalu manis dan lembut terasa di tenggorokan.
Dua minggu yang lalu rasanya aroma manis teh buatanmu masih tercium. Aroma yang selalu mengusir rasa kesal ini. Aroma yang selalu menyemangati keterpurukanku. Dan aroma yang selalu menandakan bahwa kau membuat ini dengan cinta.
Hujan ini semakin deras, semakin deras pula ingatanku tentang kau. Aku rindu masa-masa dimana engkau selalu membuka diri untuk menjadi tempat sandaranku. Aku rindu saat kau mencurahkan semua malasalah yang sedang engkau hadapi, aku juga rindu menceritakan seluruh masalahku dan selalu engkau punya jalan keluar tentang masalah yang kuhadapi. Ayah, aku takkan lupa kenagan ini.
--
Sudah hampir 3 hari ini aku tidak keluar kamar dan aku putuskan hari ini untuk mengakhiri kesedihan ini. Aku terbangun dan Nampak kaca rias yang terdapat persis didepan kasurku yang kusam ini. Kulihat wajahku disertai dengan rambut yang acak-acakan, mataku pun terlihat lebam karena tangisanku yang tak henti henti. “Tyas…! Ayo keluar nak… sudah 3 hari kamu tidak makan, ayo keluar nak..” kudengar suara wanita yang suaranya aka sing ditelingaku “Iya bi…” jawabku dengan nada berat.
“Jangan terus-terusan terbawa suasana dengan kesedihan tyas, masih banyak hal diluar sana yang bisa kamu lakukan.” Kata Bibi. Akupun akhirnya beranjak dari kasurku yang kusam ini, dengan sekuat tenaga aku mencoba untuk berjalan keluar dari kamarku. Kembali lagi aku merasakan kenangan-kenangan bersama ayah ketika aku melewati ruang keluarga yang biasanya kami gunakan untuk berkumpul bersama, tetapi aku coba untuk tidak mengingat-ingat kenangan indah yang pernah kami lalui di ruang keluarga ini. “Tyas ayo mandi, setelah itu makan. Sudah bibi siapkan di meja makan” pintah bibi yang memecahkan ingatanku sejenak. “Iya bi…” jawabku dengan nada yang masih sama beratnya untuk melupakan kenangan indah bersama ayah.
Segar rasanya tubuh ini sehabis mandi. Bergegas ku menuju ruang makan karena perut ini sudah sangat lapar tak terisi 3 hari ini. Kulihat ada makanan favoritku serta minuman favorit kita berdua, ya, sepiring sop ayam serta secangkir teh hangat. Tetapi ada yang berbeda dengan teh yang ada dimeja makan kali ini, tak kucium aroma yang biasanya.  Akupun tersadar bahwa ini adalah buatan Bibi, sialnya aku menyadari hal itu.
--
Alarm jam weker membangunkanku tepat pukul 5 pagi akupun bergegas untuk mandi dan sholat shubuh seperti biasanya. Kukenakan seragam putih abu-abu dengan rapih menandai bahwa aku siap untuk mencari ilmu untuk masa depanku pada hari ini. “Tiin… tiin…” suara klakson mobil antar jemputku menyuruhku bergegas untuk berangkat kesekolah.
Oh iya aku lupa untuk memperkenalkan diriku, Namaku Tyas dan berumur 15 tahun aku bersekolah di SMA Negeri 17 Surabaya. Berita duka baru saja menghampiriku, 4 hari yang lalu tepatnya hari kamis ayahku meninggalkanku untuk selamanya, sedih memang jika terus dipikir dan dikenang, sebelum ayahku meninggalkanku memang ibuku sudah terlebih awal pulang ke rahmatullah untuk selamanya tetapi aku tidak pernah bertemu dengan ibuku sama sekali. Tak terasa mobil antar jemput ini telah sampai didepan gerbang sekolahku.
           “Tyas.. aku turut berduka ya atas meninggal dunianya Ayahmu” kudengar suara yang tak asing lagi, iya ini suara Tika.
           Kubalas dengan senyuman dan sedikit mengangguk.
Sekali lagi saat kudengar kata Ayah pasti ingatanku selalu memberontak untuk mengingat masa-masa lalu. “Kita masuk kelas yuk” ajak Tika.
--
           Sudah 2 bulan tak terasa aku mulai melupakan kenangan bersama Ayahku, meskipun sesekali mataku berkaca-kaca teringat dengan hal-hal yang membuatku bahagia, tetapi itu jarang kulakukan. Dan akhir-akhir ini aku mulai belajar mandiri, karena aku tidak mau terus bergantung pada bibiku akupun kini menjadi penjual Koran keliling menggunakan sepeda yang diberikan Ayahku waktu aku masuk SMA lalu. Pekerjaan ini rutin kulakukan setiap pagi tepat pukul 5 aku sudah harus mengedarkan Koran-koran ini, tak jarang pekerjaan ini membuat aku telat sekolah tetapi harus bagaimana lagi, untuk mencari tambahan uang saku, inilah pekerjaan yang dapat aku lakukan.
           Seperti biasa pagi ini aku mulai beredar dengan sepedaku mengelilingi satu demi satu blok yang ada di komplekku. “Koran…. koraan”, teriakku yang memecah keheningan. “Tyas koraan..” suara yang tak asing kudengar memanggilku.
“Iya…” jawabku dengan menghampiri suara yang memanggilku tadi “Mau Koran apa Tik?” imbuhku dengan menanyakan Koran yang akan dibeli.
“Japosnya ada yas?” Tanya Tika
“Ada nih Tik, 3 ribu” jawabku dengan memberikan Koran yang tika minta.
“Ini uangnya Yas, ambil aja kembaliannya” seru Tika dengan memberikan 1 lembar uang 5 ribu.
“Makasih ya Tik” jawabku dengan wajah yang sumringah. Tika pun hanya membalas dengan senyuman lalu berjalan kedalam rumahnya.
“Koraan… koraaan…” teriakku kembali melanjutkan berjualan Koran ini.
           Pagi ini aku berutung karena Koran yang kubawa terjual dengan cepat, dan aku dapat berangkat kesekolah lebih awal. Dengan semangat kukayuh sepeda ini menyusuri jalanan yang biasa aku lewati, aku sudah terbiasa akhir-akhir berkeringat saat pergi kesekolah, karena aku tak sanggup lagi untuk membayar mobil antar jemputku. Akupun tiba disekolah tepat pukul 6.45, kulihat Tika sudah tiba terlebih dahulu berada diseberang bangkukul. “Hai Tik!” sapaku kepada Tika “Hai” balas Tika. Kulihat tika sedang membaca buku dengan serius.
“Lagi baca buku apa?” tanyaku dengan penasaran
“Ini buku yang membahas tentang macam-macam kanker” jawabnya
“Buat apa sih? Emangnya nanti ulangan biologi ngebahas tentang penyakit kanker?” tanyaku kembali
“Enggak, iseng aja. Aku mau mastiin kalau penyakit pusingku ini bukan gejala kanker” jawabnya dengan serius.
“Hah? Kamu kena kanker? Ga mungkinlah kamu kan masih muda!” jawabku dengan ekspresi kaget “Palingan penyakit pusingmu Cuma pusing biasa” imbuhku yang membantah pernyataan Tika.
“Ye.. siapa tau” jawab Tika dengan sinis.
“Jangan sampe lah Tik” seruku.
Memang akhir-akhir ini Tika selalu mengeluh Pusing yang sangat hebat kepadaku, bahkan ketika aku perhatikan ramputnya kinipun mulai menipis karena sering rontok, ah, tapi, sudahlah mengapa aku berpikiran buruk seperti ini kepada sahabatku Kriiiiing…. Bel masuk pun berbunyi.
--
           Hari ini aku tidak seberuntung kemarin, aku telat datang kesekolah dan terpaksa kena hukuman disekolahku akupun menuju kelasku dengan berjalan seperti orang pincang karena sepatuku yang sebelah kena sita. Tika tak tampak dibangku sebelahku, apakah dia juga telat, tapi.
--
“Koraan… koraan…”
“Koran!” terdengar suara Bapak-bapak yang tak asing diletingaku
“Mau beli Koran apa Pak joko?” tanyaku
“Seperti biasa Koran Japos” jawabnya
“Ini pak” jawabku dengan memberikan Koran yang Pak Joko minta “Oiya Pak Tyasnya sakit apa pak sudah seminggu endak masuk sekolah?” tanyaku dengan penasaran.
“Tyas sakit pusing” jawabnya singkat “Ini uangnya” sela Pak Joko sembari memberikan yang 10 ribu.
“Oh.. Ini Pak kembaliannya”
 “Sudah tidak usah, ambil saja kembaliannya” pinta Pak Joko dengan mengembalikan uang yang ada ditanganku.
“Oh, iya, terima kasih pak” “Titip salam buat Tyas ya Pak” seruku sembari kembali keliling komplek.

           Aku rasa ada yang aneh dengan Tyas , akhir-akhir ini dia sering tidak masuk sekolah dengan alasan sakit pusing, aneh memang jika terus-terusan sakit pusing. Akupun curiga kalau buku yang dibaca Tyas waktu itu ada hubungannya dengan penyakit Tyas saat ini. Iya, aku ingat, buku yang dibaca Tyas waktu itu adalah buku yang membahas berbagai macam kanker. Apa Tyas kena kanker? Ah… endah mungkin. Tapi, gejalanya mirip dengan orang yang mempunyai penyakit kanker, mirip dengan… Ayahku.
           2 Bulan sebelum Ayah meninggal aku masih ingat benar Ayah sering mengeluh sakit kepala, hampir setiap hari Ayah sakit kepala. Tetapi aku ingat betul Ayah botak karena ia mencukurnya bukan karena rontok. Mungkinkah?, semakin kesini aku semakin curiga kalau Ayah tidak benar-benar mencukur rambutnya karena ingin gaya rambut baru, apa Ayah menyembunyikan hal ini untuk tidak membuatku curiga.
           Aku baru menyadari bahwa Ayah benar-benar terkena kanker otak setelah Ayah meninggal, akupun terdiam sejenak. Benar apa yang Bibiku katakan bahwa Ayahku terkena kanker otak, namun aku baru menyadarinya sekarang. Mungkin Tyas sama seperti Ayahku sama-sama mempunyai penyakit kanker. Tapi, apakah, benar Tyas terkena peyakit kanker, atau ini hanya aku saja yang ngelantur.


           Pagi ini aku melakukan aktifitas seperti biasa, menjual Koran, menyusuri jalanan menuju sekolahku, tetapi saat sampai disekolah dan menuju kelasku aku kaget karena Tyas sudah mulai masuk sekolah. Akupun tersenyum melihatnya, tidak lama-lama aku langsung duduk disebelah bangkunya, ada yang aneh dari Tyas, sesuatu hal yang baru “Eh, yas kamu pake kerudung?” tanyaku dengan wajah yang heran. “Iya nih aku sekarang mulai belajar pake kerudung” jawabnya dengan nada pelan.
           Ada satu pertanyaan yang benar-benar ingin kutanyakan pada Tyas, pertanyaan yang kemarin aku tanyakan pada diriku sendiri, dan pertanyaan yang sama ingin kutanyakan kepada Ayahku. Tapi, aku sudah yakin jika jawabannya pasti menapik apa yang aku tanyakan. Tetapi jika tak kutanyakan hati ini merasa gundah untuk mengetahui jawabnya. Akupun curiga dengan kerudung yang Tyas kenakan, apakah ini seperti Ayahku yang mencoba menyembunyikan penyakitnya. Aku resah akan opini-opini yang ada diotakku. Dan jika sudah kudapatkan jawaban itu sudah pasti aku tidak dapat membantu apa-apa, karena aku tidak tahu apa obat penawar dari penyakit kanker ini.
           Aku putuskan untuk diam dan tak merasa curiga akan penyakit yang dialami oleh Tyas, meskipun aku tahu apa yang Tyas alami aku tidak tahu bagaimana cara membantunya.
--
           Sama seperti hari-hari sebelumnya hari ini Tyas kembali tidak masuk sekolah, aku dengar dia sakit lagi, dan aku dengar dia kini masuk rumah sakit. Aku merasa sedih, aku sedih Karena orang-orang yang aku cintai selalu mendapatkan penyakit yang sangat membuat orang merasa kesusahan. Akupun berpikir, kenapa aku mencintai mereka jika berakhir seperti ini semua. Aku sedih, takut jika Tyas meninggalkanku sama seperti Ayahku keduanya sama-sama aku cintai dan keduanya sama-sama meninggalkanku.
           Tak lama setelah kabar Tyas masuk rumah sakit kabar duka menghampiriku kembali, ya, persis seperti apa yang kuduga. Tyas meninggal tepat lima hari setelah ia dirawat dirumah sakit, gejalanya pun seperti yang kuduga, ya, kanker otak. Aku sedih, air mata ini menetes deras dipipiku. Akupun berpikir, jika saja aku tak mencintai mereka sudah pasti kejadiannya tak akan seperti ini, aku menyalahkan diriku sendiri, bodoh memang jika aku pikirkan, tatapi bagaimanapun ini sudah tercatat dalam sebuah buku harian tuhan bahwa aku harus kehilangan orang yang aku cintai, Tidak adil.
--
            Secangkir teh hangat siap untuk diriku sendiri, manis saat ku berada di mulut, sedikit pahit saat kutelan tepatnya di tenggorokkan. Akupun teringat kembali dengan kisah hidupku. Berawal manis dengan akhir pahit yang memaksaku untuk menelannya.