Minggu, 15 Februari 2015

Valentine tak Harus Bercerita Tentang Kekasih

Bulan ini bulan kedua ditahun 2015. Bulan ini dikenal dengan bulan penuh kasih sayang. Bulan yang diperuntukan untuk sejoli untuk memadu kisah cinta mereka. Aku rasa tidak.
Berbicara cara dengan bulan kedua, bulan February. Orang-orang mengenal bulan ini dengan bulan penuh cinta karena adanya suatu pristiwa yang dinamakan "Valentine". Bulan dimana setiap orang dimuka bumi ini yang memiliki Kekasih ataupun menginginkan kekasih selalu bilang terhadap lawan jenisnya "Maukahkau menjadi Valentine ku?". Setiap umat manusia dibumi ini seakan belomba-lomba untuk merebut dan me-"landmark" hati kekasih mereka.  Tetapi apakah hanya kekasih lawan jenis saja? Tidak adakah selain itu?
Menurutku hari "Valentine" itu hanyalah hari biasa saja. Hari dimana kita terbangun, bersiap untuk menjalani kesempatan hidup, dan menjalaninya dengan penuh niat. Namun karena setiap orang selalu memuja-mujakan hari ini sebagai hari kasih sayang, akupun memiliki orang yang aku sayangi. Orang yang juga selalu menyayangi serta mengasihi aku.
Valentine tak harus berbicara tentang kekasih yang dominan adalah lawan jenis. Tetapi valentine menurutku adalah hari dimana kita menyayangi orang yang selalu mengasihi kita. Ayahku. Ya, Ayahku, dialah orang yang selalu menyayangi serta mengasihiku. Aku selalu sayang dengannya karena dia merupakan super hero dalam keluarga kami, bahkan lebih.
Mengapa Ayahku?
Mengapa tidak? Apakah seorang Ayah tidak pantas untuk disayangi. Apa salahnya jika kita menjadikan Ayah menjadi sosok yang kita puja dihari Valentine. Apakah Valentine harus berhubungan dengan lawan jenis? TIDAK.  Ayolah, sekali-sekali jadikan Ayahmu sebagai sosok yang kita puja di hari valentine.
Sah-sah saja jika sosok valentine kita adalah kekasih kita sendiri. Namun aku lebih memilih mengodolakan (memuja) Ayahku dihari valentine ketimbang lawan jenis. Karena sesungguhnya secara harfiah arti dari Valentine sendiri adalah "Hari kasih sayang". Jadi aku lebih menyukai menyayangi orang yang menyayangi aku dihari kasih sayang ini.

Selasa, 10 Februari 2015

Semakin Berisi Semakin Merunduk


Seperti pepatah, "padi semakin berisi semakin merunduk". Seperti, "air tenang menghanyutkan". Namun tak seperti, "air beriak tanda tak dalam. Karena “berisi” tak mungkin “nyaring bunyinya”.
Orang pandai selalu diam bukan berarti tak mengerti, tetapi mereka tak ingin “nyaring bunyinya”. Orang pandai selalu mendengarkan dengan hati yang tunduk, dengan kedua telinganya. Orang Pandai selalu santun tutur katanya, tak pernah ada kata buruk dalam ucapan mulutnya. Dan oran pandai adalah orang yang pintar, cerdas, rajin, dan jujur.
Dari pepatah diatas sangat jelas berhubungan dengan orang pandai. Karena sesungguhnya, orang paindai adalah orang yang santun serta menutup-menutupi kehebatannya. Aku selalu ingin menjadi orang pandai, aku selalu berusaha untuk menjadi orang pandai. Bagiku pandai adalah raja dari segala sifat.
Meskipun sifat mudah untuk diubah, tetapi hanya orang yang sabar yang dapat mengubahnya. Orang yang benar-benar ingin merubah sifat dirinya menjadi pandai. Namun pandai bukanlah suatu sifat turunan yang artinya semua orang dapat memiliki sifat tersebut. Namun ada beberapa, bahkan banyak yang mempunyai sifat pandai dari turunannya.
Namun bagiku sifat pandai tidaklah harus dimiliki setiap orang, namun wajib diterapkan. Karena sesuatu yang kita miliki pasti cepat atau lambat akan hilang dan tidak berbekas. Namun, jika sesuatu yang tidak kita miliki tetapi kita ikuti, dan terapkan percayalah. Sesuatu itu takkan hilang dari dirimu.
"Semakin berisi semakin merunduk, semakin berisi semakin hening dan tak berbunyi”, seperti itulah kita. Semakin banyak ilmu yang kita peroleh semakin menambah pula omongan yang harus kita koreksi sebelumnya. “Berisi tak mungkin nyaring bunyinya”, orang pandai adalah orang yang cakap dalam segala hal baik itu pelajaran, santun, bahkan dalam hal menyembunyikan (menyembunyikan kepandaiannya). Karena sesungguhnya “Air Beriak Tanda Tak Dalam”.

Minggu, 01 Februari 2015

Mereka adalah Orang Yang Berpengaruh Bagiku

Dibuat oleh Welly
    Jika ditanya siapa orang yang paling dekat dengan aku, aku akan menjawab “SAHABAT”. Jika ditanya siapa orang yang paling mengerti keadaanku selain kedua orang tuaku, aku akan menjawab dengan cepat “SAHABAT”. Jika ditanya siapa orang yang berpengaruh dalam hidupku, aku akan menjawab dengan sangat cepat  “SAHABAT”. Karena begiku sahabat adalah orang yang paling berarti dalam kehidupan kita, selain orang tua kita :)
      Aku mempunyai 2 orang sahabat yang bernama Syahrul dan Welly. Mereka aku kenali sejak aku pindah ke Sidoarjo tepat waktu kelas 3 SD. Aku kenal mereka saat duduk bersama dibangku SD dan aku ingat betul susunan bangku kami bertiga, Welly sebelah kanan, Syahrul sebelah kiri, sedangkan aku diapit oleh mereka berdua “ditengah”. Kami selalu bekerja sama dalam belajar sampai ulangan pun kami juga masih bekerja sama, bukan menyontek tetapi belajar bersama dimalam hari sebelum ulangan. Persahabatan kami tidak berjalan dengan mulus, seperti banyaknya hubungan antar umat manusia dibumi ini, persahabatan kami juga mempunyai banyak masalah tetapi dapat kami lewati sampai sejauh ini. Banyak survei membuktikan bahwa persahabatan tidak akan berlanjut lebih dari 5 tahun, tetapi ternyata survei itu salah besar. Kami sudah bersahabat lebih dari 5 tahun, 7 tahun.
      Mereka adalah orang yang paling berpengaruh bagiku sejak aku pindah ke kota Sidoarjo ini. Mereka merubah secara total gaya hidupku, mereka merubah caraku bersykur kepada pencipta alam semesta, mereka merubah diriku. Aku sangat bersyukur mempunyai sahabat yang satu keyakinan, Islam. Aku bersyukur mereka adalah orang-orang yang taat dengan satu keyakinan itu, Islam.
      Syahrul dan Welly adalah orang yang selalu mengigatkanku kepada yang pemilik semua ini, mereka selalu mengingatkanku akan kewajiban 5 waktu. Saat pertama kali aku mengenali mereka, merekalah yang menyempurnakan sholatku selain Ayahku sendiri. Mereka adalah orang yang selalu melihat kebawah dan selalu melangkah kedepan, mereka adalah yang mengertikan ajaran orang tuaku bahwa hidup ini tidak mengejar Kesuksesan akan tetapi mementingkan Kesempurnaan. Dan merekalah yang mengajariku untuk selalu bersyukur akan hari ini, dan berdoa akan hari esok.
      Orang tua mereka tidaklah sama dengan Orang tuaku, mereka hidup dalam keluarga yang “tak lebih” dari cukup. Sahabatku hidup dalam kesederhanaan, hidup dalam kehidupan yang nikmat, yang diberikan oleh sang maha pencipta. Tetapi dalam kesederhanaannya itu mereka menjadikan diri mereka istemewa dimataku, karena mereka adalah orang yang polos yang hanya mengenal siapakah penciptanya. Ya mereka hanya mengenal Tuhan kami, Kewajiban yang diberikan oleh Tuhan kami, LaranganNYA, mereka hanya hidup dalam keterbatasan ekonomi, bukan keterbatasan iman.
      Arti sahabat menurutku sendiri adalah “Keluarga”. Merekalah yang menemani waktu kosongku, bermain denganku, menghiburku. Merekalah yang hadir disaat aku dalam kesusahan. Dan merekalah yang berpengaruh dalam kehidupanku.
sahabat /sa·ha·bat/ n kawan; teman; handai: