Selasa, 10 Februari 2015

Semakin Berisi Semakin Merunduk


Seperti pepatah, "padi semakin berisi semakin merunduk". Seperti, "air tenang menghanyutkan". Namun tak seperti, "air beriak tanda tak dalam. Karena “berisi” tak mungkin “nyaring bunyinya”.
Orang pandai selalu diam bukan berarti tak mengerti, tetapi mereka tak ingin “nyaring bunyinya”. Orang pandai selalu mendengarkan dengan hati yang tunduk, dengan kedua telinganya. Orang Pandai selalu santun tutur katanya, tak pernah ada kata buruk dalam ucapan mulutnya. Dan oran pandai adalah orang yang pintar, cerdas, rajin, dan jujur.
Dari pepatah diatas sangat jelas berhubungan dengan orang pandai. Karena sesungguhnya, orang paindai adalah orang yang santun serta menutup-menutupi kehebatannya. Aku selalu ingin menjadi orang pandai, aku selalu berusaha untuk menjadi orang pandai. Bagiku pandai adalah raja dari segala sifat.
Meskipun sifat mudah untuk diubah, tetapi hanya orang yang sabar yang dapat mengubahnya. Orang yang benar-benar ingin merubah sifat dirinya menjadi pandai. Namun pandai bukanlah suatu sifat turunan yang artinya semua orang dapat memiliki sifat tersebut. Namun ada beberapa, bahkan banyak yang mempunyai sifat pandai dari turunannya.
Namun bagiku sifat pandai tidaklah harus dimiliki setiap orang, namun wajib diterapkan. Karena sesuatu yang kita miliki pasti cepat atau lambat akan hilang dan tidak berbekas. Namun, jika sesuatu yang tidak kita miliki tetapi kita ikuti, dan terapkan percayalah. Sesuatu itu takkan hilang dari dirimu.
"Semakin berisi semakin merunduk, semakin berisi semakin hening dan tak berbunyi”, seperti itulah kita. Semakin banyak ilmu yang kita peroleh semakin menambah pula omongan yang harus kita koreksi sebelumnya. “Berisi tak mungkin nyaring bunyinya”, orang pandai adalah orang yang cakap dalam segala hal baik itu pelajaran, santun, bahkan dalam hal menyembunyikan (menyembunyikan kepandaiannya). Karena sesungguhnya “Air Beriak Tanda Tak Dalam”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar