Samar-samar
kulihat tetesan air. Semakin lama semakin merambat tetesannya sampai halaman
rumahku. Semakin merambat semakin cepat tetesannya dan akhirnya datanglah
hujan. Aku ingat, aku ingat suara gemuruh ini, hawa yang menyejukkan hati,
ditambah secangkir teh hangat yang kau buatkan dengan rasa manis yang pas.
Tak kusangka kita terus-terusan
melakukan kegiatan menyejukkan sekaligus menghangatkan hati ini. Kau selalu
ingat akan secangkir teh hangat disaat suara gemuruh menghampiri. Selalu ada
disaat tubuh ini merasa kedingian. Dan tak kusangka pula engkau tak pernah
merubah rasa secangkir teh ini selalu manis dan lembut terasa di tenggorokan.
Dua minggu yang lalu rasanya aroma manis teh buatanmu
masih tercium. Aroma yang selalu mengusir rasa kesal ini. Aroma yang selalu
menyemangati keterpurukanku. Dan aroma yang selalu menandakan bahwa kau membuat
ini dengan cinta.
Hujan ini semakin deras, semakin deras pula ingatanku
tentang kau. Aku rindu masa-masa dimana engkau selalu membuka diri untuk
menjadi tempat sandaranku. Aku rindu saat kau mencurahkan semua malasalah yang
sedang engkau hadapi, aku juga rindu menceritakan seluruh masalahku dan selalu
engkau punya jalan keluar tentang masalah yang kuhadapi. Ayah, aku takkan lupa
kenagan ini.
--
Sudah hampir 3 hari ini aku tidak keluar kamar dan aku
putuskan hari ini untuk mengakhiri kesedihan ini. Aku terbangun dan Nampak kaca
rias yang terdapat persis didepan kasurku yang kusam ini. Kulihat wajahku
disertai dengan rambut yang acak-acakan, mataku pun terlihat lebam karena
tangisanku yang tak henti henti. “Tyas…! Ayo keluar nak… sudah 3 hari kamu
tidak makan, ayo keluar nak..” kudengar suara wanita yang suaranya aka sing
ditelingaku “Iya bi…” jawabku dengan nada berat.
“Jangan terus-terusan terbawa suasana dengan kesedihan
tyas, masih banyak hal diluar sana yang bisa kamu lakukan.” Kata Bibi. Akupun
akhirnya beranjak dari kasurku yang kusam ini, dengan sekuat tenaga aku mencoba
untuk berjalan keluar dari kamarku. Kembali lagi aku merasakan
kenangan-kenangan bersama ayah ketika aku melewati ruang keluarga yang biasanya
kami gunakan untuk berkumpul bersama, tetapi aku coba untuk tidak mengingat-ingat
kenangan indah yang pernah kami lalui di ruang keluarga ini. “Tyas ayo mandi,
setelah itu makan. Sudah bibi siapkan di meja makan” pintah bibi yang
memecahkan ingatanku sejenak. “Iya bi…” jawabku dengan nada yang masih sama
beratnya untuk melupakan kenangan indah bersama ayah.
Segar rasanya tubuh ini sehabis mandi. Bergegas ku
menuju ruang makan karena perut ini sudah sangat lapar tak terisi 3 hari ini.
Kulihat ada makanan favoritku serta minuman favorit kita berdua, ya, sepiring
sop ayam serta secangkir teh hangat. Tetapi ada yang berbeda dengan teh yang
ada dimeja makan kali ini, tak kucium aroma yang biasanya. Akupun tersadar bahwa ini adalah buatan Bibi,
sialnya aku menyadari hal itu.
--
Alarm jam weker membangunkanku tepat pukul 5 pagi akupun
bergegas untuk mandi dan sholat shubuh seperti biasanya. Kukenakan seragam
putih abu-abu dengan rapih menandai bahwa aku siap untuk mencari ilmu untuk
masa depanku pada hari ini. “Tiin… tiin…” suara klakson mobil antar jemputku
menyuruhku bergegas untuk berangkat kesekolah.
Oh iya aku lupa untuk memperkenalkan diriku, Namaku
Tyas dan berumur 15 tahun aku bersekolah di SMA Negeri 17 Surabaya. Berita duka
baru saja menghampiriku, 4 hari yang lalu tepatnya hari kamis ayahku
meninggalkanku untuk selamanya, sedih memang jika terus dipikir dan dikenang,
sebelum ayahku meninggalkanku memang ibuku sudah terlebih awal pulang ke
rahmatullah untuk selamanya tetapi aku tidak pernah bertemu dengan ibuku sama
sekali. Tak terasa mobil antar jemput ini telah sampai didepan gerbang
sekolahku.
“Tyas..
aku turut berduka ya atas meninggal dunianya Ayahmu” kudengar suara yang tak
asing lagi, iya ini suara Tika.
Kubalas
dengan senyuman dan sedikit mengangguk.
Sekali lagi saat kudengar kata Ayah pasti ingatanku
selalu memberontak untuk mengingat masa-masa lalu. “Kita masuk kelas yuk” ajak
Tika.
--
Sudah
2 bulan tak terasa aku mulai melupakan kenangan bersama Ayahku, meskipun
sesekali mataku berkaca-kaca teringat dengan hal-hal yang membuatku bahagia,
tetapi itu jarang kulakukan. Dan akhir-akhir ini aku mulai belajar mandiri,
karena aku tidak mau terus bergantung pada bibiku akupun kini menjadi penjual
Koran keliling menggunakan sepeda yang diberikan Ayahku waktu aku masuk SMA
lalu. Pekerjaan ini rutin kulakukan setiap pagi tepat pukul 5 aku sudah harus
mengedarkan Koran-koran ini, tak jarang pekerjaan ini membuat aku telat sekolah
tetapi harus bagaimana lagi, untuk mencari tambahan uang saku, inilah pekerjaan
yang dapat aku lakukan.
Seperti
biasa pagi ini aku mulai beredar dengan sepedaku mengelilingi satu demi satu
blok yang ada di komplekku. “Koran…. koraan”, teriakku yang memecah keheningan.
“Tyas koraan..” suara yang tak asing kudengar memanggilku.
“Iya…” jawabku dengan menghampiri suara yang
memanggilku tadi “Mau Koran apa Tik?” imbuhku dengan menanyakan Koran yang akan
dibeli.
“Japosnya ada yas?” Tanya Tika
“Ada nih Tik, 3 ribu” jawabku dengan memberikan Koran
yang tika minta.
“Ini uangnya Yas, ambil aja kembaliannya” seru Tika
dengan memberikan 1 lembar uang 5 ribu.
“Makasih ya Tik” jawabku dengan wajah yang sumringah.
Tika pun hanya membalas dengan senyuman lalu berjalan kedalam rumahnya.
“Koraan… koraaan…” teriakku kembali melanjutkan
berjualan Koran ini.
Pagi
ini aku berutung karena Koran yang kubawa terjual dengan cepat, dan aku dapat
berangkat kesekolah lebih awal. Dengan semangat kukayuh sepeda ini menyusuri
jalanan yang biasa aku lewati, aku sudah terbiasa akhir-akhir berkeringat saat
pergi kesekolah, karena aku tak sanggup lagi untuk membayar mobil antar
jemputku. Akupun tiba disekolah tepat pukul 6.45, kulihat Tika sudah tiba
terlebih dahulu berada diseberang bangkukul. “Hai Tik!” sapaku kepada Tika
“Hai” balas Tika. Kulihat tika sedang membaca buku dengan serius.
“Lagi baca buku apa?” tanyaku dengan penasaran
“Ini buku yang membahas tentang macam-macam kanker”
jawabnya
“Buat apa sih? Emangnya nanti ulangan biologi ngebahas
tentang penyakit kanker?” tanyaku kembali
“Enggak, iseng aja. Aku mau mastiin kalau penyakit
pusingku ini bukan gejala kanker” jawabnya dengan serius.
“Hah? Kamu kena kanker? Ga mungkinlah kamu kan masih
muda!” jawabku dengan ekspresi kaget “Palingan penyakit pusingmu Cuma pusing
biasa” imbuhku yang membantah pernyataan Tika.
“Ye.. siapa tau” jawab Tika dengan sinis.
“Jangan sampe lah Tik” seruku.
Memang akhir-akhir ini Tika selalu mengeluh Pusing
yang sangat hebat kepadaku, bahkan ketika aku perhatikan ramputnya kinipun
mulai menipis karena sering rontok, ah, tapi, sudahlah mengapa aku berpikiran
buruk seperti ini kepada sahabatku Kriiiiing….
Bel masuk pun berbunyi.
--
Hari
ini aku tidak seberuntung kemarin, aku telat datang kesekolah dan terpaksa kena
hukuman disekolahku akupun menuju kelasku dengan berjalan seperti orang pincang
karena sepatuku yang sebelah kena sita. Tika tak tampak dibangku sebelahku,
apakah dia juga telat, tapi.
--
“Koraan… koraan…”
“Koran!” terdengar suara Bapak-bapak yang tak asing
diletingaku
“Mau beli Koran apa Pak joko?” tanyaku
“Seperti biasa Koran Japos” jawabnya
“Ini pak” jawabku dengan memberikan Koran yang Pak
Joko minta “Oiya Pak Tyasnya sakit apa pak sudah seminggu endak masuk sekolah?”
tanyaku dengan penasaran.
“Tyas sakit pusing” jawabnya singkat “Ini uangnya”
sela Pak Joko sembari memberikan yang 10 ribu.
“Oh.. Ini Pak kembaliannya”
“Sudah tidak usah,
ambil saja kembaliannya” pinta Pak Joko dengan mengembalikan uang yang ada
ditanganku.
“Oh, iya, terima kasih pak” “Titip salam buat Tyas ya
Pak” seruku sembari kembali keliling komplek.
Aku
rasa ada yang aneh dengan Tyas , akhir-akhir ini dia sering tidak masuk sekolah
dengan alasan sakit pusing, aneh memang jika terus-terusan sakit pusing. Akupun
curiga kalau buku yang dibaca Tyas waktu itu ada hubungannya dengan penyakit
Tyas saat ini. Iya, aku ingat, buku yang dibaca Tyas waktu itu adalah buku yang
membahas berbagai macam kanker. Apa Tyas kena kanker? Ah… endah mungkin. Tapi,
gejalanya mirip dengan orang yang mempunyai penyakit kanker, mirip dengan…
Ayahku.
2
Bulan sebelum Ayah meninggal aku masih ingat benar Ayah sering mengeluh sakit
kepala, hampir setiap hari Ayah sakit kepala. Tetapi aku ingat betul Ayah botak
karena ia mencukurnya bukan karena rontok. Mungkinkah?, semakin kesini aku
semakin curiga kalau Ayah tidak benar-benar mencukur rambutnya karena ingin
gaya rambut baru, apa Ayah menyembunyikan hal ini untuk tidak membuatku curiga.
Aku
baru menyadari bahwa Ayah benar-benar terkena kanker otak setelah Ayah
meninggal, akupun terdiam sejenak. Benar apa yang Bibiku katakan bahwa Ayahku
terkena kanker otak, namun aku baru menyadarinya sekarang. Mungkin Tyas sama
seperti Ayahku sama-sama mempunyai penyakit kanker. Tapi, apakah, benar Tyas
terkena peyakit kanker, atau ini hanya aku saja yang ngelantur.
Pagi
ini aku melakukan aktifitas seperti biasa, menjual Koran, menyusuri jalanan
menuju sekolahku, tetapi saat sampai disekolah dan menuju kelasku aku kaget
karena Tyas sudah mulai masuk sekolah. Akupun tersenyum melihatnya, tidak
lama-lama aku langsung duduk disebelah bangkunya, ada yang aneh dari Tyas,
sesuatu hal yang baru “Eh, yas kamu pake kerudung?” tanyaku dengan wajah yang
heran. “Iya nih aku sekarang mulai belajar pake kerudung” jawabnya dengan nada
pelan.
Ada
satu pertanyaan yang benar-benar ingin kutanyakan pada Tyas, pertanyaan yang
kemarin aku tanyakan pada diriku sendiri, dan pertanyaan yang sama ingin
kutanyakan kepada Ayahku. Tapi, aku sudah yakin jika jawabannya pasti menapik
apa yang aku tanyakan. Tetapi jika tak kutanyakan hati ini merasa gundah untuk
mengetahui jawabnya. Akupun curiga dengan kerudung yang Tyas kenakan, apakah
ini seperti Ayahku yang mencoba menyembunyikan penyakitnya. Aku resah akan
opini-opini yang ada diotakku. Dan jika sudah kudapatkan jawaban itu sudah
pasti aku tidak dapat membantu apa-apa, karena aku tidak tahu apa obat penawar
dari penyakit kanker ini.
Aku
putuskan untuk diam dan tak merasa curiga akan penyakit yang dialami oleh Tyas,
meskipun aku tahu apa yang Tyas alami aku tidak tahu bagaimana cara
membantunya.
--
Sama
seperti hari-hari sebelumnya hari ini Tyas kembali tidak masuk sekolah, aku
dengar dia sakit lagi, dan aku dengar dia kini masuk rumah sakit. Aku merasa
sedih, aku sedih Karena orang-orang yang aku cintai selalu mendapatkan penyakit
yang sangat membuat orang merasa kesusahan. Akupun berpikir, kenapa aku mencintai
mereka jika berakhir seperti ini semua. Aku sedih, takut jika Tyas
meninggalkanku sama seperti Ayahku keduanya sama-sama aku cintai dan keduanya
sama-sama meninggalkanku.
Tak
lama setelah kabar Tyas masuk rumah sakit kabar duka menghampiriku kembali, ya,
persis seperti apa yang kuduga. Tyas meninggal tepat lima hari setelah ia
dirawat dirumah sakit, gejalanya pun seperti yang kuduga, ya, kanker otak. Aku
sedih, air mata ini menetes deras dipipiku. Akupun berpikir, jika saja aku tak
mencintai mereka sudah pasti kejadiannya tak akan seperti ini, aku menyalahkan
diriku sendiri, bodoh memang jika aku pikirkan, tatapi bagaimanapun ini sudah
tercatat dalam sebuah buku harian tuhan bahwa aku harus kehilangan orang yang
aku cintai, Tidak adil.
--
Secangkir teh hangat siap untuk
diriku sendiri, manis saat ku berada di mulut, sedikit pahit saat kutelan
tepatnya di tenggorokkan. Akupun teringat kembali dengan kisah hidupku. Berawal
manis dengan akhir pahit yang memaksaku untuk menelannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar